Hot News Pada Zaman Dahulu

Published on August 31st, 2015 | by Naughty Accessories

0

Film Kartun Malaysia Diduga Menyadur Cerita Karya Sastra Bali Tanpa Izin!

Naughtiers, kamu suka menonton film kartun ‘Pada Zaman Dahulu’? Kalau iya coba lihat filmnya yang berjudul ‘Sang Cangak’. Film yang ditayangkan oleh stasiun swasta ini, bercerita tentang seekor Bangau dan Kepiting di sebuah danau. Tapi kamu tahu tidak, ternyata cerita ini merupakan karya sastra asli seniman Bali, (alm) Gusti Putu Windya. Wow!

Namun sayangnya, pembuat kartun ‘Sang Cangak’ itu tidak pernah meminta izin kepada ahli waris pembuat. Kok bisa sih?

“Yang jelas kami sebagai ahli waris sangat keberatan karya orang tua kami disadur tanpa meminta izin kepada kami,” ujar Dewa Bagus Komang Budiana, ahli waris pencipta Sastra Sang Cangak, di Jembrana, Bali, Rabu (26/8).

Menurut Budiana, karya sastra itu telah dipatenkan. Seharusnya jika karya sastra itu diangkat kembali, hendaknya memberitahukan atau meminta izin kepada pencipta atau ahli waris pencipta. Apalagi karya sastra Bali diubah kemasannya menjadi kartun.

Menurut Budiana, karya sastra itu dibuat sekitar 1970. Lantas direkam dalam kaset dan dipopulerkan oleh Maestro geguritan, (alm) Dewa Aji Wanten dan I Nyoman Rede.

“Kasetnya diproduksi berulang-ulang. Bahkan sampai sekarang kasetnya masih diproduksi, karena sastra geguritan ini sangat diterima orang Bali di seluruh Indonesia,” tutur Budiana di Banjar Pasar, Desa Yehembang, Mendoyo, Jembrana.

Sekitar 1986, pihak Universitas Udayana (UNUD) Denpasar sempat melakukan penelitian buat membuktikan kalau karya sastra Sang Cangak itu asli karya (alm) Gusti Putu Windya. Dari beberapa bukti, termasuk naskah dalam lontar, pihak kampus meyakini kalau karya itu memang asli buatan Gusti Putu Windya dalam bentuk geguritan.

Terkait hal itu, Budiana sebagai ahli waris mengaku sangat keberatan dan minta pihak pemerintah segera mengambil langkah melindungi karya seni orang tuanya, termasuk melindungi karya seni seniman-seniman Bali lainnya.

“Saya anggap pemerintah dalam hal ini gagal melindungi karya seni warganya. Bahkan boleh dibilang acuh tak acuh. Termasuk di Jembrana, seniman sastra geguritan kurang mendapat perhatian dari pemerintah,” tambah Budiana.

Tuh kan Naughtiers, kalau kita banyak-banyak belajar mengenai sejarah dan karya seniman jaman dahulu, kita akan tahu jika ada karya sastra anak negeri yang di ‘jiplak’ Negara lain. Yuk kita banyak-banyak belajar!

Share Button

Tags: , , , , ,




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Back to Top ↑
  • Categories


  • Naughty Accessories Instagram

  • Subscribe Now



  • See Latest News

  • Naughty Video