Hot News WhatsApp-Image-2017-02-13-at-21.25.26

Published on February 16th, 2017 | by Naughty Accessories

0

Mengharukan! Asnawi, Bawa Dagangan Gorengan saat Wisuda, Naughtiers.

Asnawi, mahasiswa asal Bangka berhasil mendapat gelar Sarjana Ekonomi di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dengan meraih IPK 3,39. Untuk dapat mendapat gelar ini tidaklah mudah, Naughtiers. Cowok yang akrab disapa Awi ini berjuang membiayai dirinya dan kuliahnya sendiri dengan menjual gorengan keliling.

Uniknya saat acara wisuda pada sabtu 11 Februari 2017 lalu, Awi mengenakan toga sambil membawa pikulan dan dagangan gorengan berupa tahu, tempe, dan bakwan ke Sportorium UMY sebagai bentuk nazar yang pernah dia janjikan.

“Saya pernah bernazar dulu, kalau saya lulus, saya akan pakai toga dengan membawa dagangan ke kampus. Saya ingin menunjukkan, penjual gorengan juga bisa menyelesaikan kuliah. Saya membayar kuliah dan membiayai hidup saya juga pakai ini,” kata Awi, panggilan akrabnya, kepada wartawan di Kampus Terpadu UMY di Tamantirto, Bantul, Selasa (14/2/2017).

Dagangan itu bukan lagi dijual seperti hari-hari biasa, namun dibagikan kepada orang-orang di sekitarnya, baik mahasiswa, orang tua/wali mahasiswa, petugas satpam, hingga tukang parkir.

Dia menjajakan gorengan di sekitar tempat kos, tidak jauh dari kampus tempat berkuliah. Dia berjualan gorengan tidak mengganggu perkuliahan. Tugas-tugas kuliah tetap dikerjakan di tengah kesibukannya berdagang.

Awi mulai berjualan gorengan pada tahun 2006. Waktu itu, dia harus menanggalkan keinginannya melanjutkan sekolah ke SMA. Setelah lulus SMP, dia harus ikut kedua orang tuanya merantau berjualan gorengan. Selama empat tahun itu pula Awi berjualan gorengan, berpindah-pindah, dan jauh dari kampung.

Baru pada tahun 2009, Awi bisa melanjutkan SMA, meski dari sisi usia sudah agak telat. Namun hal itu tidak membuatnya patah semangat. Dia tetap bersyukur dan menjalaninya hingga lulus SMA.

Menurutnya, pada tahun 2010, saat kenaikan kelas XI SMA, ia dipercaya sekolah untuk mengikuti program pertukaran pelajar ke Yogyakarta. Dia mengikuti program pertukaran pelajar dan ditempatkan di SMKN 7 Yogyakarta.

Pada awal berdagang, Awi mengaku tidak kuat atau putus asa karena dagangan tidak laku. Sebelum berjualan gorengan, Awi sempat berjualan pempek dan mi ayam.

Setelah beralih menjual gorengan, keuntungan yang didapatkan setiap harinya bisa dikatakan cukup besar. Setiap hari rata-rata ia mendapatkan keuntungan dari berjualan gorengan sebesar Rp 300 ribu.

Awi mengaku, ketika ingin melanjutkan sekolah yang lebih tingi, ada beberapa tetangga yang meremehkan, menghina, bahkan mencacinya.

“Saya pernah dihina. Saya ingat sekali perkataan salah satu tetangga, ‘Kamu keahliannya hanya buat gorengan saja, nggak mungkin kamu bisa menyelesaikan pendidikan tinggi,'” katanya.

Saat ini dia ingin melanjutkan pendidikan hingga jenjang S-2, bahkan ingin melanjutkan S-2 di luar negeri.

“Saat ini saya mau pulang kampung dulu sambil mencari pekerjaan di samping berjualan gorengan lagi dengan orang tua. Saya juga ingin mencari beasiswa S-2 ke luar negeri. Saya lebih berminat jadi wirausaha, walau dulu waktu kecil ya cita-citanya jadi presiden,” kata Awi tertawa.

Wow, salut yah dengan Asnawi, walaupun tidak berasal dari keluarga mampu, dia bisa berjuang sendiri untuk melanjutkan sekolah yang lebih tinggi. Pelajaran yang bisa diambil dari cerita Asnawi, kita tidak boleh menyerah dengan keadaan, kita bisa mengubah nasib kita asal kita mau berjuang dan berusaha.

Share Button

Tags: , , , ,




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Back to Top ↑